Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 April 2012

AMPEL, festive night at KAMPOENG ARAB

Nama wisata religi Sunan Ampel sudah melanglang buana di seantaro bumi Indonesia, yah bagaimana tidak, Sunan Ampel adalah salah satu dari Wali Songo atau sembilan Sunan yang menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Saking terkenalnya wisata religi ini, peziarah yang datang pun bermacam-macam orang dari seluruh Indonesia. Nah, di bulan Ramadan ini pastilah wisata religi Ampel menjadi semakin menarik untuk dinikmati. Saya tertarik untuk mengamati seluk beluk Ampel lebih dalam lagi, terutama heritage track di Kampung Arab yang sering terlupakan untuk sekedar dilirik oleh para peziarah. Saya segera menghubungi seorang teman yang berdomisili di daerah Ampel, Ismail namanya. Ismail adalah seorang arab turunan ke-5, nenek moyangnya adalah seorang pedagang dari yaman yang hijrah ke Indonesia pada tahun 1800-an. Ismail bercerita kepada saya bahwa mengunjungi Ampel itu sebaiknya pada malam hari saja karena semakin malam suasana akan makin meriah dan menarik. Maka bersiaplah saya untuk mengarungi perjalanan malam ini. Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel, begitulah tulisan yang terpampang di sebuah gapura kokoh yang nampaknya menyambut dengan ramah semua peziarah yang datang. Dari gapura tersebut mulai terasa suasana heritage yang sangat kental, saya terkagum-kagum dengan bangunan-bangunan tua di kiri dan kanan jalan. Beberapa dari bangunan bertekstur Eropa klasik tersebut masih memiliki papan nama kuno yang bertuliskan nama pemilik pertamanya, tentu saja bangunan tersebut sudah turun temurun diwariskan dari satu generasi ke genarasi yang lain. Uniknya, bangunan-bangunan kuno ini sengaja dibiarkan dan tidak banyak diubah, kekokohan kusen-kusen pintu dan jendela dengan ukiran yang khas dan pagar-pagar yang sudah berkarat pun dibiarkan teronggok manis untuk setiap mata yang ingin meliriknya. Bahkan ada beberapa bangunan kuno yang masih dihuni di tempat ini yang sudah menjadi bangunan cagar budaya dan tidak boleh di pugar.
Betapa terbelalaknya saya ketika menyusuri Jalan KH Mansyur yang dikelilingi dengan bangunan tua ini. Suasana begitu ramai dan hiruk pikuk dengan orang-orang dan kendaraan berlalu lalang. Ini bukanlah hiruk pikuk biasa yang disebabkan kemacetan jalanan. “Hari jumat, harinya orang Arab.” Kilah ismail singkat dan membuat saya langsung paham akan keramaian ini. Di sepanjang kanan kiri jalan Nampak warung-warung masakan timur tengah yang ramai akan pembeli. Saya menyimak satu per satu menu-menu yang asing di lidah Jawa saya, mulai gule roti maryam, sate kambing muda, nasi briani, nasi kebuli, kambing oven, marak kambing, susu kambing, kopi rempah hingga jus korma. Saya juga melihat beberapa pria Arab yang terkenal dengan ketampanannya berlalu lalang dengan pakaian jubah putih lengkap dengan peci, sepertinya mereka sedang bersiap untuk salat tarawih. Wanita-wanita arab juga tak kalah menarik untuk diamati, mereka kebanyakan memakai jubah hitam seperti kebanyakan yang saya lihat di televisi, dan mereka sangat cantik dan anggun berlalu lalang naik becak di sepanjang jalan. Selaian makanan khas timur tengah, di sepanjang jalan ini juga ada beberapa toko milik orang arab yang berjualan bibit parfum, kurma, buku dan kitab, hingga jamu dan obat-obatan khas arab.
Di antara bangunan toko-toko kuno tersebut ada sebuah bangunan kuno yang lebih besar yang mencuri perhatian saya, Hotel Kemadjoean namanya. Di depan pintu hotel tersebut tertulis hotel itu sudah berdiri sejak tahun1928. Hotel kuno ini tetap ramai sampai sekarang karena selain harganya terjangkau dan antik, hotel ini telah turun temurun menjadi persinggahan para pedagang dari luar Pulau Jawa yang kulakan bahan dagangannya untuk dijual kembali di kota asal mereka. Seorang tukang becak yang menyapa saya bercerita bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan kemeriahan hari jumat di sini, semua warga kampung arab dan para pedagang yang singgah bertumpah ruah dan bersuka cita di jalanan. Suasana ini tak ayal membuat saya berkhayal tingkat super seperti sedang berada di kota Damaskus kecil atau tepian kota Baghdad yang ramai.
Heritage track night ini saya lanjutkan terus hingga ke jalan panggung, makin menyusuri jalan panggung ini kita akan makin terbius dengan suasana kota tua. Bangunan kuno di jalan ini memang sudah tidak ditempati lagi oleh pemiliknya, hanya menjadi gudang-gudang tua tempat penyimpanan barang dagangan mereka. Di jalan ini juga ada sebuah masjid tempat para orang Arab kebanyakan menjalankan ibadahnya sehari-hari, Masjid Serang namanya. Jika anda ingin merasakan suasana tarawih yang berbeda saya menyarankan anda untuk salat di masjid Serang atau masjid-masjid lain di sekitar wilayah Ampel ini. Masjid-masjid disini menjalankan salat tarawih seperti di Makkah, dengan surat-surat pendek yang dibaca adalah satu jus Quran khatam perharinya, jadi pas sekali, tiga puluh hari Ramadan untuk tiga puluh jus Quran. Jalan Panggung ini juga terkenal dengan tempat praktek Habib-Habib Arab yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Ibu Rohmah, seorang wanita paruh baya berdarah Madura menceritakan kepada saya bahwa praktek Habib Syah-lah yang paling terkenal di wilayah ini, bahkan selain menyembuhkan penyakit, Habib Syah juga sering didatangi anggota DPR dan pejabat-pejabat ibu kota untuk meminta nasehat. Ibu Rohmah juga bercerita bahwa tarif pengobatan di Habib Syah adalah membayar semampunya untuk orang yang tidak mampu, wah sungguh mulia sekali perbuatan Habib Syah ini. Selain itu saya juga melihat banyak anak kecil berdarah arab yang berkeliaran di jalan ini, beberapa dari mereka nampak asyik bermain petasan dan membolos salat tarawih. Saya sempat bercakap-cakap dengan anak-anak berwajah tampan tersebut. Mereka bercerita bahwa mereka tidak bisa berbahasa Arab, bahkan mereka tampak sangat lancar sekali menggunakan Bahasa Jawa dan diselingi sedikit Bahasa Madura dalam percakapan mereka. Dari hal ini nampak bahwa akulturasi antara budaya Arab, Jawa dan Madura sudah menjadi sebuah harmoni yang berdampingan di daerah ini.
Saya pun melanjutkan track malam yang asyik ini ke arah Jalan Sasak, tidak jauh beda dengan suasana di Jalan KH Mansyur, di sepanjang jalan ini banyak pedagang di kanan kiri jalan, dari jalan ini ada sebuah pintu gerbang yang akan membuat kita langsung sampai di Masjid Ampel. Jalan sepanjang pintu gerbang ini adalah sebuah pasar yang padat dengan orang berdagang. Selain para pedagang yang berjualan pakaian, tasbih kokka (tasbih dari kayu yang dipakai nabi nuh untuk membuat kapal semeseta), kopyah, pernak pernik islam, di pasar ini juga ada pedagang yang berjualan benda-benda yang dianggap mempunyai kekuatan magic, di antaranya adalah batu akik dan bambu patil lele. Bambu ini adalah bambu langka yang mempunyai cabang peruasan yang tidak wajar, dalam kepercayaan Jawa bambu ini dipercaya dapat mengusir kejahatan dan mendatangkan rejeki. Wah, tenyata memang sungguh bermacam-macam sekali dagangan di pasar ini. Ibu muslimah, seorang pedagang pakaian muslim bercerita bahwa suasana pasar ini sengaja diciptakan seperti suasana Pasar Seng di Makkah, sehingga peziarah yang datang akan merasakan seperti sedang menjalankan ibadah haji. Wah, saya menjadi merasa beruntung sekali sudah mencicipi Pasar Seng made in Indonesia ini.
Suasana di masjid ampel sangatlah ramai, banyak peziarah yang datang untuk beribadah dan mengaji. Masjid kokoh yang pernah menjadi masjid terbesar kedua di Surabaya ini sudah berdiri sejak tahun 1421 Hijriyah, pendirinya adalah Sunan Ampel sendiri. Struktur bangunan yang ditopang dengan tiang-tiang kayu kokoh menunjukkan betapa megahnya masjid bertekstur Jawa dan sedikit Eropa kuno ini. Di dalam masjid ini juga ada kompleks perkuburan sunan wali songo, saya melihat banyak peziarah yang berdoa di sana, sayangnya di kompleks ini kita tidak boleh mengambil gambar, padahal cukup menarik untuk dilihat. Masjid ini tidak pernah sepi oleh peziarah, makin malam suasana akan makin ramai. Juru masjid bercerita kepada saya bahwa sejak malam ke-21 salat tarawih di Masjid Ampel selalu dialihkan menjadi tengah malam dengan harapan mendapat malam Lailatul Qadr, beliau juga menambahkan makin banyak hari Ramadan di masjid ampel malah makin ramai tidak seperti di masjid-masjid lain yang makin sepi jamaa’ahnya. Sungguh meriah sekali malam ramadan di kawasan Ampel dan juga di kota tua kampung Arab yang jarang sekali dilirik oleh peziarah. Saya sangat meng-highly recommended-kan tempat ini bagi para traveler pecinta budaya dan heritage trip. Kawasan ini juga mudah saja dicapai karena dekat dengan kota, kita bisa naik angkutan kota O jurusan pasar turi dan dilanjutkan dengan angkutan kota D jurusan ampel, atau kalau ingin yang lebih seru kita bisa naik becak dari JMP (Jembatan Merah Plaza) hingga berkeliling kawasan Ampel.
*tulisan ini dimuat di majalh infobackpacker edisi 9, untuk mendownload majalah klik di sini ya sayangs!

KUTAI, lets save the loveable ORANG UTAN

Saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Pongo pygmaeus alias orang utan sejak melihat gerak-gerik mereka di kebun binatang surabaya. Tatapan sendu dan berkaca-kaca yang terpancar dari sepasang mata bulat itu senantiasa membuat hati saya bergetar. Pedih rasanya ketika melihat mereka tak hentinya melambaikan tangan kepada pengunjung, meminta kacang atau pun secuil roti untuk mengisi perut. Para pengunjung pun tak mengindahkah tulisan: dilarang memberi makanan kepada satwa, semakin banyak kacang yang mereka lempar ke dalam kandang, semakin menarik tontonan yang mereka dapatkan. Entah karena stok makanan dari kebun binatang yang kurang atau karena sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh para pengunjung, tak habis pikir rasanya melihat tingkah orang utan yang tidak jauh berbeda seperti pengemis jalanan itu. Melihat fenomena ini, saya tergelitik untuk melakukan perjalanan ke dalam hutan borneo, menengok orang utan liar dengan kehidupannya yang masih alami. Pilihan saya jatuh kepada Taman Nasional Kutai di Kalimantan timur, karena menurut informasi yang saya dapatkan, kawasan Prevab Mentoko di Taman Nasional ini merupakan stasiun penelitian orang utan liar, di mana orang utan dibiarkan hidup alami seperti di habitat aslinya tanpa diberi bantuan makanan atau pemeliharaan. nah, kawasan yang nature seperti inilah yang saya butuhkan untuk mempelajari dan mengamati keunikan orang utan lebih lanjut. Taman Nasional Kutai terletak di kota Sangatta, sekitar 5-6 jam dari kota Balikpapan, dan dapat ditempuh dengan bus ataupun mobil travel yang banyak tersedia di terminal. Apabila melakukan perjalanan siang hari, mata kita akan dibius dengan betapa hijaunya hutan Kalimantan yang menjadi jantung dunia ini. Jalanan antar kota di provinsi ini sungguh berliku dan berbukit, dilengkapi pula dengan sopir-sopir yang hobi ngebutnya membuat kita ingat akan tuhan dan bermacam-macam lantunan doa. Saya sangat menyarankan obat anti mabuk perjalanan untuk dikonsumsi lebih dahulu bagi mereka yang tidak biasa dikocok perutnya. Ada baiknya jika kita singgah dahulu di kota Samarinda, menikmati indahnya Mahakam yang maha luas dan melanjutkan perjalanan esok harinya dari terminal Lempake menuju kota Sangatta. Sasaran saya adalah kawasan prevab Mentoko Taman Nasional Kutai, minimnya informasi tentang stasiun penelitian orang utan liar ini tidak membuat saya berkecil hati. Karena berkunjung pada hari Minggu, balai kantor taman nasional kutai yang terletak di kota Bontang pun tutup. Banyak cara menuju Roma, maka saya putuskan untuk mampir dan mencari informasi di kawasan wisata Sangkima Taman Nasional Kutai. Kawasan wisata Sangkima merupakan kawasan wisata yang paling sering dikunjungi oleh wisatawan karena aksesibilitasnya yang paling mudah dan berada di pinggir jalan poros km 38 kota Bontang-Sangatta. Kawasan wisata sangkima sungguh rindang dengan pepohonan hijau yang tinggi, di sini juga terdapat pohon ulin raksasa dengan diameter 2,5 meter, tempat camping, jembatan gantung dan jembatan sling yang menantang adrenalin kita. Petugas di kawasan wisata Sangkima sungguh baik hati dan memberi saya informasi penting bagaimana cara menuju kawasan prevab mentoko, dilengkapi pula dengan contact person yang harus saya hubungi nanti. Segera setelah itu saya melanjutkan perjalanan dengan penuh senyum kemenangan. Rute yang harus saya tempuh adalah kota Sangatta-kantor desa kabo jaya-dermaga papa Charlie. Malangnya, sopir travel tidak tahu di mana kantor desa kabo jaya itu, sehingga saya diturunkan di pertigaan desa kabo. Sambil sedikit basa-basi dan tanya orang-orang yang sedang nongkrong di warung, saya menanyakan bagaimana caranya menuju dermaga papa charlie. Malangnya lagi, tidak seorang pun warga desa kabo yang tahu tentang dermaga yang menjadi pintu masuk ke kawasan stasiun penelitian orang utan liar yang terletak di desa mereka sendiri. Setelah menelepon berkali-kali pada contact person yang saya dapatkan di Sangkima tadi akhirnya terhubung juga kepada Pak Supian, penjaga prevab mentoko, entah karena sinyal yang sulit atau hujan yang deras sekali siang itu sehingga saya agak kesusahan menelepon mereka. Pak Supian menjelaskan kepada saya untuk segera menuju kantor desa kabo jaya, dermaga papa charlie terletak di dekat kantor desa tersebut, beliau akan mengutus petugas kapal untuk menjemput saya di tepian sungai. Segeralah saya naik ojek saat itu juga ketika hujan mulai mereda dan matahari mendadak panas sekali, yah, sungguh ekstrim cuaca di pulau borneo ini.
Setibanya di kantor desa kabo jaya, saya beruntung sekali bertemu dengan seorang pegawai prevab yang akan mengantar bule menyebrang. Ternyata pelabuhan papa charlie terletak di bawah kantor desa kabo jaya, tepat di tepian sungai sangatta yang terkenal dengan buaya-buaya buas pemangsa manusia. Segera setelah itu saya menyebrang sungai dengan kapal bermotor kecil yang disediakan oleh pihak taman nasional kutai. Sekitar 15 menit perjalanan sungai, saya pun tiba di kawasan prevab mentoko. Sungguh takjub sekali rasanya, kawasan ini terletetak agak dekat dengan tepian sungai akan tetapi tertutupi oleh hijaunya pohon-pohon rindang. Terdapat pondok kayu yang disediakan sebagai tempat menginap para pengunjung dan peneliti, sungguh sederhana tapi kokoh terlihat. Bekas hujan tadi sore membuat hawa kayu-kayu yang basah makin sejuk membelai hidung saya. Saya disambut begitu baik dengan para petugas dan ranger hutan yang terlihat senang karena ada wisatawan dalam negeri yang akhirnya berkunjung. Ternyata jumlah wisatawan dalam negeri yang berkunjung ke tempat ini sangatlah sedikit, hampir separuh jumlah wisatawan manca negara setiap bulannya. Mirisnya, warga sekitar kota Sangatta pun banyak yang tidak tahu tentang kawasan perlindungan orang utan ini.
Pak supian, pak mardian dan pak hasanuddin, mereka bertiga bekerja merangkap sebagai ranger hutan dan penjaga tempat ini. Sambil menikmati buka puasa setelah perjalanan panjang ini, saya bercengkerama dengan beliau-beliau yang ahli masalah per-orang utan-an ini. Kepada saya, mereka bercerita bagaimana uniknya orang utan sehingga harus kita jaga kelestariannya. Orang utan berbeda dengan primata lain, penambahan jumlah mereka sangatlah lambat apabila dibandingkan dengan primata lain. Salah satu penyebabnya adalah seorang induk orang utan tidak akan beranak lagi sampai anak mereka berusia 6 tahun, dan selama 6 tahun itulah sang induk akan menggendong dan membesarkan sang anak kemana pun dia pergi. Sungguh ibu yang baik sekali, bahkan manusia yang diwajibkan memberi ASI ekslusif selama 6 bulan saja tidak semua bisa melaksanakannya. Di tambah lagi masalah yang sedang santer terjadi adalah pembabatan hutan untuk pembukaan lahan baru, sehingga mengganggu habitat asli dimana orang utan hidup dan mendapat makanan. Akibatnya banyak orang utan yang dibantai karena dianggap hama atau pengganggu. Banyak pula orang utan yang dibunuh begitu saja karena kedapatan mencuri di ladang milik penduduk, padahal mereka hanya sekedar mencari makananan pengganti atas sumber makanan mereka di hutan yang telah di babat habis oleh manusia. Kebakaran hutan dankekeringan juga merupakan salah satu hal lain yang membuat habitat alami orang utan makin terbatas. Yang lebih mengerikan lagi, trio ranger ini bercerita bahwa ada pula sekelompok pemburu yang sengaja berburu orang utan untuk di makan dagingnya. Saya sungguh tidak habis pikir akan kekejian manusia kepada orang utan, saya kira kehidupan mereka di alam mungkin lebih baik daripada di balik jeruji kebun binatang, ternyata hidup di alam pun sekarang banyak mengalami ancaman yang serius. Trio ranger juga bercerita kepada saya bagaimana takjubnya melihat orang utan membuat kandang mereka sendiri dari ranting-ranting pohon, bagaimana lengan-lengan yang panjang itu mematahkan satu ranting ke satu ranting lain lalu membentuknya menjadi sebuah sarang melingkar yang melindungi mereka dari hujan dan pemangsa. Orang utan dikawasan ini merupakan orang utan liar yang dibiarkan hidup alami, mereka dibiarkan mencari makan sendiri agar tidak bergantung pada manusia dan tetap lestari hidup dari satu pohon ke pohon lain. Habitat asli orang utan adalah pohon, orang utan yang berjalan di tanah bukanlah orang utan liar, begitu penjelasan trio ranger kepada saya. Obrolan yang menambah wawasan saya tentang orang utan ini terpaksa harus dihentikan karena saya harus melakukan track malam keliling hutan mencari tarantula, bersama dengan pak mardian dan sekelompok wisatawan asal ceko.
Selain orang utan, kita dapat menemui flora dan fauna lain yang yang terdapat dalam hutan ini. Semuanya kebanyakan hewan dan tumbuhan baru yang selalu membuat saya bersorak kegirangan karena belum pernah bertatap muka dan berkenalan secara langsung sebelumnya. Saya senang sekali ketika melewati hutan tengah malam dengan penerangan headlamp dan beberapa kunang-kunang yang berkali-kali melintas memberi penerangan tambahan, belum lagi ketika saya mendapati sebuah tarantula besar yang merayap keluar dari liangnya, tangan-tangan yang panjang dan berbulu halus berwarna hitam pekat itu sungguh terlihat jahat dan garang sekali. Keesokan paginya, tracking masuk hutan dilanjutkan untuk berburu orang utan, berburu gambar saja tentunya. Setelah jalan kaki sekitar 1 km ke dalam hutan, saya dan rombongan bule dari belanda mendapati seekor induk orang utan sedang asik menikmati dedaunan di atas pohon sambil menggendong anaknya. Kami semua sungguh takjub dibuatnya, dengan kedua lengannya yang panjang itu sang induk lincah sekali meraih ranting-ranting yang jauh dari tempatnya duduk. Para ranger hutan menjelaskan kepada kami bahwa kami tidak boleh berada pas di bawah pohon tempat orang utan berada, karena sesekali mereka suka menjatuhkan ranting. Selain itu, para ranger juga bercerita bahwa jangan pernah sekali-kali mengganggu atau mengambil anak orang utan yang ada induknya, sang induk akan marah dan menjadi buas sekali, bahkan tak akan segan menyerang manusia sampai bisa mendapatkan anaknya kembali. Sungguh induk orang utan sangat pantas untuk mendapat gelar kehormatan, the best smart mom ever. Selain orang utan, saya juga mendapati flora dan fauna lain yang lebih mudah diamati pada siang hari. Fauna seperti kelana pinang, luwing, kupu-kupu hidung panjang atau yang biasa disebut lunlim, laba-laba, serangga-serangga lain, burung-burung dan reptil. Apabila melanjutkan perjalanan hingga ke muara sungai, kita bisa melihat habitat asli bekantan atau kera hidung panjang. Kalau beruntung, kita juga bisa melihat rusa sambar, kancil, bajing kerdil bertelinga hitam, kura-kura kaki gajah dan ular phyton. Untuk flora saya sungguh takjub melihat pohon-pohon besar yang belum pernah saya jumpai di mana pun sebelumnya, ada pohon ulin, pohon raja, pohon hitam, ada pula tumbuhan pasak bumi, anggrek, rotan, tumbuhan paku, lumut, jamur, kantong semar dan banyak lagi yang lain.
Prevab mentoko taman nasional kutai adalah tempat yang sangat worth untuk dikunjungi, di mana kita tidak hanya berbagi dengan alam, tetapi juga merasakan langsung bagaimana berkenalan dan berbagi cerita agar alam dapat terus dijaga kelestariannya. Mari menyayangi alam seperti menyayangi diri kita sendiri.
Price list Bus Balikpapan-samarinda: rp 25.000,- (atau travel rp 60.000,-) Travel samarinda-sangatta: rp 80.000,- (bisa hubungi travel andi 081346625633) Ojek dari desa kabo-dermaga papa charlie: rp 15.000,- (bisa hubungi ojek irvan 085731727727) Sewa kapal dari taman nasional, sungai sangatta-prevab: rp 300.000,- (bisa sharing) (bisa hubungi pak supiani 081346348803 atau kantor taman nasional kutai 054827218 / 054822946 atau pak sumidi 082157525231 / 08159724106) Penginapan selama di prevab: rp 100.000,- per malam (bisa sharing, satu kamar ada yang berisi sampai 3 bed) Ranger hutan: rp 200.000,- (bisa sharing) Makan selama di prevab: rp 60.000,- Tiket masuk: rp 1.500,- (per orang) Kamera: rp 3.000,- (per kamera) *tulisan ini dimuat di majalah infobackpacker edisi 11, untuk mendownload klik di sini sob!

Sabtu, 21 Mei 2011

Haunted hotel??



saya tiba di makale tengah hari, namun cuaca yang mendung hari itu tetap membuat saya seperti terlena dengan kesejukan pagi. yah kecuali pantat saya mungkin, sepertinya dia tidak merasakan setitik kesejukan sama sekali, kalau si pantat bisa ngomong mungkin dia dah teriak: Anybody Helpppp!!!!panash!
perjalanan yang saya tempuh memang cukup jauh, dari majene ke baraka, lalu dari baraka ke makale, sepertinya ada baiknya kalau saya mampir beli bantal di pasar terdekat, lumayan buat alas pantat di motor. .hehehe
setelah menempuh perjalanan 3 jam dari baraka, plus nyasar, plus poto-poto narsis di jalan, plus pipis di pom bensin.. akhirnya sampai juga di tujuan pertama tim majene berkobar ini, pemancar tvri makale :)

akses tvri makale lumayan sulit, apalagi motor yang saya naikin berboncengan dengan gibran sering tidak kuat ditanjakan.. jadilah saya sedikit olahraga melunturkan lemak dan mengencangkan kaki saya yang sebenarnya sudah seksi dan jenjang ini. hosh..hosh... setiba di sana, saya selain, seperti biasa, berucap 'wooohoooooo kereeeen sekaliiiiii broooo', juga tertarik dengan sebuah bangunan mewah yang enarik perhatian itu.

di belakang pemancar ini, ada sebuah bangunan besar dan megah berupa deretan rumah tongkonan yang  nyaris rampung. sepertinya bangunan itu adalah semacam hotel atau deretan villa. wah, sayamg sekali, seandainya bangunan itu dibangun sampai selesai, saya jamin akan banyak turis dari dalam dan luar negeri yang ingin honeymoon di sana.. saya juga ah... kyaaaaaa

pak daniel, salah satu penjaga pemancar di sana, bercerita bahwa bangunan tersebut sudah sepuluh tahun mangkrak gara-gara tidak ada investor yang mau melanjutkan. orang-orang sekitar banyak yang menyebut hotel itu berhantu, ada juga yang menyebut sebagai tempat mesum buat pasangan-pasangan yang tidak punya banyak uang untuk indehoy di hotel. wah, menurut saya bercinta di hotel setengah jadi ini khusus untuk pasangan berani mati dehh, semacam uji nyali!!! yaiks.... 

bangunannya sampai berlumut

mas idink gelantungan..hihihi

sampai ada pojokan yang jadi kandang babi :(
agak sore, kami berkeliling desa sekitar, beli makanan, main-main di hotel setengah jadi yang katanya berhantu itu... dan tidak lupa, poto-poto sodara-sodaraaa....

rogier-mas tacik-saya yang paling cantik-gibran-pak daniel
tidak dapat diragukan lagi, tempat ini memang cocok untuk dijadikan hotel. saya sangat menyayangkan pembangunan hotel ini harus berhenti di tengah jalan. pemandangan deretan gunung rante kombala dan rante mario terlihat sangat cantik sekali membentang di depan hotel. agak ke timur sedikit, kita bisa melihat bentangan kota makale dan rantepao. pepohonan dan persawahan juga menambah indahnya rasa damai ini... kyaaaaaa... meskipun berada di puncak, di sini masih ada persawahan loh. seperti kebanyakan sawah penduduk toraja, ditengah-tengah sawahnya ada empang berbentuk lingkaran untuk memelihara ikan... beberapa sawah juga dilengkapi jebakan burung dari bambu yang setiap beberapa menit bergoyang karena terisi air, suara jebakan bambu itu benar-benar dapet banget deh feel memecah keheningan desanya... kyaaaaa



haunted hotel, saya sangat menyayangkan nasibmu :(

Minggu, 20 Maret 2011

kami, LASKAR TAKABONERATE FINAL PART

ketika matahari mulai terbit dan meninggi di perairan menuju selayar
saya sedang mimpi berkejaran di pantai berpasir putih dengan mike lewis ketika mas teddy membangunkan saya yang tidur di tenda. mas teddy dan mas appur tampaknya sudah bangun lebih awal dan siap untuk packing. itu berarti kapal solar yang akan kami tumpangi siap berangkat ke pulau selayar... olalaaa... segera semangat saya bangkit ke puncak eiffel.
setelah packing, kami segera berangkat ke warung untuk menemui para awak kapal solar. hampir semua tong-tong berisi solar itu masuk ke dalam kapal, cukup banyak tongnya, mungkin sekitar seratus dan mencapai berat hampir sepuluh ton. tong-tong itu diangkut dalam dua kapal kayu. dan saya akan menumpang salah satu kapalnya :)

awak kapal yang bekerjasama mengangkut tong solar tanpa lelah
hari itu masih pukul dua dini hari, angin bertiup sedikit kencang dan langit masih gelap. saya, mas teddy dan mas appur naik ke kapal kecil yang membawa kami agak ke tengah, ke tempat kapal pengangkut solar sedang bersandar. saya segera lompat ke kapal besar yang hampir penuh berisi tong-tong solar itu. para awak kapal menyuruh kami duduk di dalam saja agar tidak masuk angin, karena di laut nanti angin bertiup kencang. tapi kami malah naik ke atap kapal, biar bisa lihat-lihat suasana... hehehe
hari masih gelap, tapi beningnya perairan bira ini sangat mudah ditangkap mata meskipun hanya dengan penerangan lampu kapal yang kecil, bahkan dasarnya yang berpasir putih pun kelihatan... cantik sekali :)
para awak kapal masih sibuk mengangkut sisa-sisa tong yang belum naik ke atas kapal, beberapa ada yang mengatur letak-letak tong agar cukup diangkut semuanya ke dalam kapal.
setelah semua tong masuk, kapal pun berangkat.

di dalam kapal pun berisi tong solar
tiga orang penasaran ini duduk diatap kapal dengan antusias. kami senang berkenalan dengan angin laut yang bertiup sedikit kencang hari itu. ombak pun cukup tenang.

kami menanti-nanti seperti apa sunrise ditengah laut ini nanti. belum lagi cerita awak kapal yang mengatakan kalau sering sekali lumba-lumba lewat mengiringi kapal yang sedang berlayar ke selayar.
tak berapa lama kemudian langit mulai beranjak terang sedikit demi sedikit...
olalaaa... sunrise-nya dataaaang sodara-sodaraaaaa...

matahari yang mulai terbit
menuju selayar
mas appur, anak gunung yang pertama kalinya mengarungi lautan
makin lama langit makin terang, tapi pemandangan lautan ini juga makin cantik
ada beberapa pulau kecil di sebelah kami, katanya itu pulau kambing dan beberapa pulau lain yang biasanya diakses dari tanjung bira... ssstt... disekitar pulau tersebut katanya banyak hiu loh!
tak berapa lama lama kemudian terlihatlah pulau selayar yang kami elu-elukan itu... senangnyaaaa... selangkah lagi saya bisa peluk-peluk pulau selayar deh. hehehe
pulau selayar mulai keliatan sodara-sodaraaa..


kapten di kemudi

kami orang indonesia
perjalanan ini kami tempuh sekitar dua jam. tak berapa lama kami sampai di pelabuhan. kapal ferry yang meninggalkan kami tampak sedang bersandar santai menunggu semua penumpang naik. olalalaa..
selayar sangat bersih sekali, air di pelabuhannya benar-benar jernih hingga pasir di dasarnya plus para ikan dapat dilihat dengan mata telanjang
setelah mengucapkan salam perpisahan dan terimakasih pada awak kapal kami melanjutkan perjalanan ke tempat pembelian loket kapal yang tidak jauh dari pelabuhan. dari sana nanti kami akan mencari kendaraan yang akan membawa kami ke benteng, ibu kota kabupaten selayar.
arrghhhh... takabonerate sudah dekat!!!

sampai sudah di pelabuhan
gini loh cara nurunin tongnya
kapal ferry yang tega meninggalkan kami, hiks
sayang seribu sayang.. ternyata kami sampai kesiangan. bis dan kendaraan yang mengangkut penumpang kembali ke kota benteng sudah tidak ada. alternatif lain adalah ojek yang mungkin sangat mahal dan itu pun harus di telepon dulu tukang ojeknya... wah wah.. sepertinya saya memang tidak pernah berjodoh dengan dinas perhubungan yah :(
untungnya seorang ibu yang berjualan nasi kuning di tempat loket memberi tahu kami kalau ada sebuah bis yang akan kembali ke benteng karena kekurangan jumlah penumpang yang akan dibawa ke makassar.
segera saya mendatangi pak sopirnya dan beliau mengiyakan. hip hip horeeeeee!!!!

boneka-boneka di kaca bis :)
pak asnur namanya, beliau sudah hampir sepuluh tahun mengemudikan bus 'sama bahagia' yang membawa penumpang dari selayar ke makassar. pak asnur sangat baik sekali dan suka bercerita. beliau banyak bercerita tentang selayar, tentang tempat wisata yang ada di selayar, tentang jeruk selayar yang terkenal, tentang segala macam suku mulai cina, jawa, padang dan semua suku yang ada di selawesi yang ada semuamya di selayar... yah pak asnur bercerita selayar dulunya adalah tempat persinggahan para pedagang dan nelayan, beberapa dari mereka ada yang menetap sampai mempunyai banyak keturunan.. makanya akulturasi budaya di selayar sangatlah unik.. pak asnur juga dengan senang hati melewatkan kami jalanan perbukitan yang biasanya tidak dilewati oleh kendaraan angkutan. pemandangannya sangat cantik sekali. pohon kelapa di mana-mana, dan rumah panggung penduduk yang sangat tradisional. di kiri kanan jalan... huaaaa.... betapa beruntungnya saya........
setelah itu pak asnur juga mengajak kami mampir di rumah salah satu penduduk untuk sekedar menumpang mandi, karena penampilan kami bertiga ternyata sangat kucel sekali seperti dakocan.
saya senang sekali karena itu pertama kalinya saya singgah di rumah panggung khas sulawesi :)

mas teddy, ibu yang rumahnya kami tumpangi mandi, dan pak asnur

setelah itu pak asnur lanjut mengantarkan kami ke pelabuhan kota benteng. saya berdebar tidak karuan karena takabonerate sudah di depan mata, rasanya seperti empat jam yang paling saya nanti-nantikan dalam hidup saya.
di pelabuhan saya segera mencari kapal yang bisa membawa kami ke takabonerate, menurut info yang saya dapat, kapal ke takabonerate berangkat tiap sore jam tiga.
tapi info itu ternyata sedikit membingungkan.
setiap awak kapal dari kapal yang sandar di sana mengatakan tidak ada kapal yang ke takabonerate. dan mereka selalu mengucapkan bonerate, hingga saya harus selalu menekankan kalau saya mau ke takabonerate bukan bonerate. perlu saudara ketahui bahwa takabonerate dan bonerate sangatlah berbeda. takabonerate adalah kepulauan atol di sebelah timur selayar dan bonerate adalah sebuah pulau di sebelah selatan selayar yang sudah mendekati perairan flores, bonerate ini lebih jauh, sekitar dua belas jam kalau cuaca sedang baik dan sehari semalam kalau cuaca sedang jahat. arggghh... bayangkan kalau saya malah salah alamat...
tiba-tiba datang seorang awak kapal yang memberitahu saya kalau ingin ke takabonerate saya bisa mencarter kapalnya. entahlah, saya agak benci mendengar carter setelah terkena jebakan sopir tercela kemarin. tapi yah namanya nafsu obsesional saya sama takabonerate sudah sampai di ubun-ubun kepala, saya tanyakan berapa harganya kalau mau carter kapal. si awak kapal menjawab, "biasanya sih enam belas, tapi kalau tidak liburan begini sepuluh saja lah."
saya sempat bingung, enam belas itu satu juta enam ratus atau seratus enam puluh ribu yaa??
setelah saya tanyakan sama si bapak, ternyata enam belas yang dimaksud adalah ENAM BELAS JUTA  RUPIAH sodara-sodaraaaa!!! maka sepuluh yang dimaksud adalah SEPULUH JUTA..... ampunn emak..
karena saya adalah mahasiswa yang waras dan excellent with morality, maka saya cuma berucap "sepertinya tidak pak, terimakasih" sebelum meninggalkan bapak itu jauh-jauh.

pesan di pintu pelabuhan benteng: selamatkan terumbu karang sekarang!

bangkai kapal yang rusak di pelabuhan
kapal-kapal di pelabuhan sudah pasti tidak dapat diandalkan. tapi kami masih tidak patah semangat. mas teddy adalah seorang pemuda yang banyak berkecimpung di dunia budaya, tidak perlu lagi ditanyakan kepiawaiannya dalam kepengurusan dewan kebudayaan jawa timur. maka dari itu kami segera beranjak menuju kantor dinas pariwisata dan kebudayaan selayar, mengharap akan ada malaikat yang menitipkan mukjizatnya untuk kami di sana. pak asnur masih dengan setia mengantarkan kami ke sana-ke mari.
setiba di kantor dinas pariwisata dan kebudayaan, kami mengobrol sebentar lalu kami langsung dibawa  ke kantor taman nasional takabonerate.
argghhh... saat itu perasaan saya galau tidak karuan... seperti hidup menggantung pada seutas tali rafia... saya sangat ingin sekali ke takabonerate ya tuhan... tolong saya tuhan...

kami disambut ramah ketika sampai di kantor taman nasional takabonerate dan saya langsung nyerocos bagaimana perjuangan yang telah kami lewati, sungguh terlihat kalau saya sedang putus asa :(
setelah itu kami ditemukan dengan pak bos dari taman nasional takabonerate, karena semua keputusan keluar masuk pulau harus mengantongi ijin pak bos dulu.
pak jamil namanya, lelaki paruh baya itu memulai penjelasannya bahwa cuaca saat ini sedang tidak menentu, meskipun cuaca hari ini sedang cerah panas benderang, bisa saja cuaca esok hari atau bahkan sore hari langsung berbeda. bulan februari ini masih musimnya angin barat dimana sangat tidak disarankan untuk menyebrang ke takabonerate. yah, karena cuaca bisa berubah sangat ekstrim bahkan dalam hitungan jam.

arghhhhhhhhhhh........ penjelasan pak jamil membuat saya merasakan patah hati untuk pertama kalinya.....
kesimpulannya cuma satu: kami tidak bisa ke takabonerate :(
huhuhuuuhuuuuuuhuuuu... sedih sekaliii

tapi tuhan maha adil
saya juga bukan orang yang gampang menyerah
saya sering mengajak nasib untuk selalu berkompromi agar kita sama-sama untung, maka get lost di selayar pun rasanya akan sangat menyenangkan :)
tak ada takabonerate, selayarpun saya embat :)
tuhan pasti sudah menyiapkan bayak hal indah di sini untuk menyenangkan saya yang sedih bukan main gara-gara nggak kesampaian ke takabonerate...
iyaaaaa... life must go on sodara-sodaraaa...
setidaknya saya punya cerita betapa survivenya laskar takabonerate ini dengan segala aral merintang meskipun akhirnya impian itu nggak tercapai... 
yah saya rasa saya nggak perlu sedih berkepanjangan, cukup lima menit saja :)
susah senang tetap senang :)
mari kita jamah selayar!

benar-benar bahagia bersama :)


Sabtu, 19 Maret 2011

kami, LASKAR TAKABONERATE PART 0.5

TAKABONERATE impian kita (picture taken by ASRI)
hari itu adalah hari kedua saya di makassar, setelah semalam saya menghabiskan waktu nongkrong di pantai losari dan gedung kesenian makassar, pagi ini adalah giliran saya kelayapan. tujuannya adalah kepulauan takabonerate yang cantik dan asri berseri seperti saya.

saya berangkat bertiga dengan mas appur dan mas teddy. tidak perlu dintanya lagi, saya mutlak yang paling cantik di geng trio kwek kwek ini.
kami berangkat ke terminal diantar teman mas appur, mas tata namanya, waaahh.. *terimakasih sekali mas tata atas kebaikan hatinyaa :)

mas tata yang baik hati sekali :)


kijang inova jadi angkutan loh di sini!

honda revo jadi becak! olala...


ternyata kami belum beruntung, bis ke kota benteng (ibu kota pulau selayar, tempat pelabuhan menyebrang ke takabonerate) sudah berangkat semua pagi tadi jam delapan. panther (istilah kendaraan antar kota di sulawesi) ke bira pun juga berangkat pagi tadi untuk mengejar jadwal kapal yang menyebrang ke selayar.
olalaaaa... kami bingung dan berdoa bersamaan agar ada malaikat yang datang membawa keajaiban

tiba-tiba datang seorang sopir yang mengatakan kalau kendaraannya adalah kendaraan satu-satunya yang belum berangkat ke bira, dan kalau tidak ingin ketinggalan kapal sebaiknya kami segera mencarter mobilnya karena hari sudah mulai siang. dan tentu saja harganya mahal sodara-sodaraa... saya sudah mencium sepertinya ada bau-bau penipuan dari gelagat pak sopir. tapi yah berhubung kami lagi butuh yah berangkatlah sudah geng trio kwek kwek ini.
mobil yang kami naiki lengkap dengan pak sopir yg lagi transaksi
perjalanan di mulai
perjalanan empat jam dari makassar ke pelabuhan bira saya habiskan dengan sedikit-sedikit berteriak 'waoww kereenn', 'wooww cantikk', woww terus deh. di sebelah kiri saya, berjajar pegunungan, mas appur memberi tau saya kalau itu adalah gunung bawakaraeng. mas appur adalah seorang anak gunung sejati yang baru kali ini akan pergi ke laut, sepertinya saya-lah yang menjadi mak comblang antara mas appur sama laut. hihihii.. rumah panggung di sepanjang jalan membuat saya terpana, karena rumah adat panggung di sulawesi sangat berbeda dengan rumah joglo di jawa. belum lagi nama-nama kota yang saya lewati, sungguh keren-keren sekali dan terdengar asing bagi saya, ada gowa, takalar, jeneponto, bantaeng, bulukumba.. waow.. awesome!

karena terlalu senang melihat jalanan saya lupa akan waktu. saya lupa menghitung waktu. saya lupa memperkirakan waktu. dan ternyata hari sudah terlalu sore ketika kami tiba di bira. saya meminta pak sopir cepat-cepat melaju menuju pelabuhan setelah  saya menemukan kenyataan bahwa seorang ibu yang menumpang kendaraan ini hanya membayar 10% persen dari tarif yang harus kami bayar, beliau berkata kalau itu tarif biasanya.. olalaaaa... ternyata benar sekali kami sudah dimanfaatkan pak sopir...
ironisnya, setiba di pelabuhan kapal ferry yang menyebrang ke selayar baru saja berangkat... saya cuma bisa melihat pantat kapal yang makin lama makin menjauh dan mengecil...
untunglah saya ini dasarnya cantik dan cerdas, segera saya telepon seorang teman yang minggu kemarin ketinggalan ferry juga ke selayar.

tak lama kemudian saya sudah mendapat informasi dari teman kalau dia menumpang kapal nelayan di tanah beru, di kampung tempat pembuatan kapal pinisi. segera saya meminta pak sopir mengantarkan kami ke sana, karena hari sudah mulai gelap dan ssstttt... sebenarnya tujuan saya adalah balas dendam sama pak sopir yang sudah menipu kami..hehehe

pinisi yang gagah
setiba di tanah beru lagi-lagi saya heboh ber' waooowww'...
tanah beru terkenal dengan kampung nelayan pembuat kapal pinisi, kapal kayu legendaris suku bugis yang sangat handal menghadapi ombak di lautan
dulunya ada mitos yang mengatakan kalau kapal pinisi dibuat tanpa menggunakan paku, hanya sela-sela kayu saja yang disambung dan direkatkan dengan putih telur. tak lupa juga katanya ada mantra-mantra yang membuat kapal ini menjadi kuat dan lentur... waowww sekali kan :)
di sepanjang kampung ini saya melihat banyak kapal pinisi, mulai dari yang berukuran sedang hingga yang lebih besar daripada rumah
ada juga yang baru dibangun dan ada yang hampir rampung. beberapa ada yang sudah dicat dan beberapa ada yang belum
saya senang sekali rasanya... kapal pinisi benar-benar gagah dan membuat saya berdebar bangga.. sungguh hebat indonesia

setelah terlena sejenak dengan kokohnya kapal pinisi, saya kembali lagi ke kehidupan nyata
orang-orang di kampung tanah beru itu bilang kalau hari ini tidak ada nelayan yang berlayar ke pulau karena cuaca yang buruk... yah ombak berdebur kencang saat itu. dan mereka menyarankan kami untuk menginap saja di tanjung bira dan menunggu ferry besok pagi atau menumpang menginap di warung wong solo yang tidak jauh dari sana, yah mengingat dua diantara kami adalah jawa tulen.
saya senang rasanya, meskipun ketinggalan ferry saya mendapat ganti yang tidak kalah indah, bisa melihat kapal pinisi... besar, kokoh dan banyak lagi jumlah kapalnya... betapa beruntungnya saya
oh ya... ternyata pak sopir merasa rugi dan ngomel-ngomel terus tidak karuan karena dia harus mengantarkan kami kembali ke warung wong solo... sepertinya dia minta ditambahin fee.. dan tentu saja kami hanya mendengarkannya dengan sederhana: masuk telinga kanan, keluar telinga kiri!! hehe

jadi, mungkin beginilah pesan moral yang bisa diambil dari perbuatan pak sopir yang tercela: jangan suka menipu orang! nanti tuhan akan memberi balasan yang setimpal.
tuh kan, si pak sopir boro-boro mau dapat untung, malah rugi waktu juga dia gara-gara menipu orang cantik.

sambil ngomel-ngomel pak sopir menurunkan kami di warung wong solo. setelah itu dia ngibrit entah ke mana.. dan kami cuma ketawa-ketawa kecil, hehe
bapak ibu di warung solo menyambut kami dengan ramah, rasanya seperti bertemu saudara sekampung di tanah perantauan. kami langsung memesan makanan. banyak sekali porsinya, ada mi kuah dan bandeng, belum lagi lauk-lauk pelengkap lainnya. makan besar sodara-sodara :)
warung solo yang terkenal
makan besarrr
enak-enak makan barulah saya ingat kalau tripod yang saya bawa ketinggalan di mobil pak sopir tercela tadi...olalalalaaaa... tripod pinjaman lagi.... huahuhuuuu... saya sedih rasanyaa

jadi, mungkin beginilah pesan moral yang bisa diambil dari perbuatan saya: jangan suka menyimpan dendam sama orang! nanti tuhan akan memberi balasan yang setimpal.
hiks!

oooh ya tapi untungnya lagi saya ini dasarnya cantik dan cerdas, saya ingat tadi memotret mobil si bapak sopir lengkap dengan plat nomernya, jadi segera saya meminta mas appur untuk meminta tolong pada temannya mencari si bapak sopir esok harinya di terminal makassar.
huhuu.. terimakasih tuhan, engkau masih menyayangiku... saya janji deh nggak jadi orang jahat lagi :(

naik pete pete
setelah makan kami berencana melanjutkan perjalanan ke bira, menginap di sana dan menunggu ferry esok hari. segeralah kami naek pete-pete, nama alias angkot untuk wilayah sulawesi.
lalu kami berhenti di sebuah kawasan yang tidak terlalu jauh dari pelabuhan dan terlihat sebuah kapal pinisi besar yang hampir rampung dari kejauhan.. arghhh... semoga ada kampung nelayan dibawah...

turun yuk turuun
ketika turun kami harus melewati sebuah tangga yang agak curam, lalu di bawah sana ada pepohonan besar dengan daunnya yang lebar, rasanya seram-seram menantang, kyaaaaaa.... saya senangsekali berasa syuting uji nyali..hehe
tiba-tiba dari kejauhan ada orang yang memanggil saya, seorang wanita setengah baya yang sangat ramah. setelah kami mengobrol sebentar, beliau senang bukan kepalang ketika tahu saya berasal dari jawa timur, ternyata beliau berasal dari gresik sebelum ikut suaminya pindah ke sulawesi. setelah tahu kalau kami ketinggalan ferry beliau memberitahu bahwa besok pagi sekali akan ada kapal pengangkut solar yang akan berangkat ke selayar, beliau dengan senang hati akan mengantarkan kami pada kapten kapal untuk meminta ijin menumpang.
sambil menunggu mas teddy yang sedang menemui kapten kapal, saya dan mas appur berbincang-bincang dengan penduduk sekitar. mereka sangat ramah-ramah sekali, saya diajak main domino sama adik-adik kecil. mereka bahkan mempersilhkan kami menginap dirumah mereka atau hanya sekedar menumpang mandi. tapi kami tidak ingin merepotkan, kami memutuskan untuk membuka tenda di tepian pantai.

mas appur yang paling jago bahasa makassar-nya..hhihi (ya iya lah.. yang lain jawa tulen)
saya menang terus main domino lawan mereka :)
senangnyaa diberi kesempatan bertemu mereka
segera setelah mas teddy kembali, kami mencari tempat untuk membuka tenda, kami mencari tempat yang tidak terlalu jauh dari markas kapal yang akan mengangkut solar nanti. disebelah tenda kami juga ada beberapa tenda yang sepertinya dibuat oleh nelayan yang sedang singgah. setelah mendirikan tenda kami menyimpan barang-barang di dalam, menumpang mandi di rumah penduduk lalu pergi ke warung tempat para awak kapal berkumpul, sekalian numpang charge hape dan batere kamera, hehe
kami mengobrol banyak, mulai dari banyolan-banyolan jayus hingga tukaran lagu-lagu di hape. saya senang sekali karena salah satu awak kapal memberi saya bati'-bati', lagu khas selayar
terdengarnya seperti pantun yang bersahut-sahutan dan diiringi musik yang meriah.. keren sekali, rasanya ingin segera sampe selayar saja waktu itu :)

warung tempat nongkrong awak kapal
salah satu banyolan yang jayus itu adalah sebagai berikut sodara-sodaraa:

salah satu awak kapal: dari jawa mana mbak?
saya cantik: saya dari surabaya pak, jawa timur
salah satu awak kapal: wah kalau saya dari solo mbak
saya cantik: oh yaa... saking tahun pinten njenengan teng mriki?? (bahasa jawa halus: sudah berapa tahun anda tinggal di sini?)
salah satu awak kapal: hahaha... saya solo.. SOLOWESI... hehehe

arggghh..gubrak...hihihiii
setelah itu guyonan ini selalu saya dengar tiap kali ada yang tanya kalau saya dari jawa
hehehe

awak kapal yang jayuss

awak kapal yang lain
setelah ngobrol-ngobrol kami kembali ke tenda, istirahat sebentar, packing lalu siap-siap berangkat menumpang kapal solar ke selayar
malam itu saya disuruh tidur di tenda, 
sepertinya dua laki-laki itu tau kalau sebenarnya saya ingin tidur di luar :(
mas teddy tidur di sebuah kursi santai di depan rumah nelayan.
mas appur tidur rebahan di pasir sambil melihat bintang.
kami istirahat sejenak, 
mungkin dua laki-laki itu juga melamunkan hal yang terjadi seharian ini sebelum tidur.. 
sama seperti yang saya lakukan.. hehehe
lalu sama-sama berharap agar esok hari lebih menyenangkan lagi
maka, ami bonne nuit :)
selamat tidur teman :)
selamat tidur laskar takabonerate :)