Tampilkan postingan dengan label samarinda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label samarinda. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Januari 2011

Petang di SAMARINDA


setelah puas beromantis-romantisan dengan senja di tepian mahakam, saya beranjak untuk menikmati suasana senja di kota

samarinda, kota tepian, yah tepian sungai mahakam

sungai mahakam lebar sekali, mungkin 5 kali sungai porong di sidoarjo yang sering saya lewati tiap kali pulang kampung ke jember
samarinda mengingatkan saya akan pelajaran sejarah di bangku smp
kala itu guru saya menjelaskan pusat kebudayaan dahulu terletak di tepian laut atau tepian sungai, beliau mencontohkan salah duanya adalah sungai tigris dan sungai efrat yang menjadi pusat kebudayaan kerajaan mesopotamia
wah, ketika tiba di tepian mahakam saya langsung membayangkan kalau sungai ini adalah tigris dan efratnya indonesia, hehehe *.*

di tepian mahakam banyak sekali pedagang... mulai dari warung-warung cangkruk, tempat mainan anak-anak, penjual telor penyu (uh, menyedihkan!), penjual durian dan lai, penjual helm dan lain-lain
rasanya saya makin merasa di sungai tigris atau efratnya indonesia, di mana sungai juga menjadi pusat perdagangan di jaman dahulu..hehehe
pedagang lai dan durian yang nyammii

diantara semua pedagang yang menarik perhatian saya adalah penjual duriannya, tapi bukan durian yg membuat saya tertarik, melainkan LAI
Lai adalah buah yang menyerupai durian tapi buahnya berwarna kuning dan kulitnya tidak sekeras durian.. saya pun kuat memegangnya dengan tangan telanjang, kalau durian mungkin sudah berdarah-darah yaa.. hehe
rasa lai tidak semanis durian, buahnya kering namun warna kuningnya akan membekas di gigi, lucu sekali kayaknya ya kalau abis makan lai terus kita kondangan, hehehe..
ini loh yang namanya lai

setelah jalan-jalan di tepian saya mampir ke islamic centre samarinda
ini adalah masjid termegah yang pernah saya lihat dan wajib dikunjungi apabila kita singgah di samarinda
sayang sekali masjid semegah ini penerangannya kurang, bahkan mungkin lebih terang masjid agung jember yang kecil namun selalu terang benderang. saya sangat menyayangkan sekali, padahal melihat masjid ini rasanya seperti melihat istana kerajaan islam... sangat agung dan indah
sayang sekali ketika itu saya lagi 'dapet', abang melaranmg saya masuk masjid... arrgghhh.. abang cupu deh!
islamic centre.. ya allah megahnyaaa

dari islamic centre, abang mengajak saya mengunjungi pusat sovenir
banyak sekali barang khas kaltim yang dijual di sini
kebanyakan adalah kerajinan manik-manik suku dayak
manik-manik ini dirangkai hingga menjadi tas, dompet, topi, baju, anting, kalung dan banyak lagi lainnya... dan.. sssst... semuanya dikerjakan dengan tangan loh! keren sekali suku dayak ya... kalau saya yang bikin mungkin sepuluh tahun baru selesai..hihii
toko sovenirnya penuh pernak-pernik yang kaltim bangettt

tas manik-manik khas dayak yang membuat saya bingung memilih
laress maness

selain manik-manik, juga ada patung-patung, perak bakar atau kerajinan khas martapura lainnya, dan juga ada jamu-jamu atau ramuan khas kalimantan... semacam obat lemah syahwat atau obat kuat gituuu.. hehehe... salah satunya adalah minyak bulus.. awalnya saya kira obat kuat itu adalah ramuan yang bisa membuat kita jadi lebih berenergi... eh ternyata buat itu yaaa... hehehehehe..
topi dayak yang sangat saya inginkaannnnn
sovenir kecil

di tempat sovenir ini saya puasin poto-poto.. karena uang saya nggak cukup buat beli semua sovenirnya... hehehe.. akhirnya abang membelikan saya tas dan dompet... sebenarnya banyak yang saya incar.. hehe.. lain kali deh saya borong semuanyaaa
wahh.. seandainya orang beneran.. kerenn
pose dulu... pinjam propertii

Kamis, 25 November 2010

My First Romance

* si cantik mahakam yang romantis
 


Saya bukanlah orang yang romantis.
Bahkan saya merasa terlalu gila untuk mengucapkan kata-kata ‘so sweet………’ seperti yang teman-teman saya sering lakukan kalau melihat hal-hal yang manis, kalau melihat pacar yang baik hati, kalau melihat gebetan yang superboy banget…

Entahlah apa romantis itu, sepertinya saya tidak butuh romantis untuk hidup.

Hari itu termasuk dalam hari-hari ‘mati kebosanan’ saya.
Saya mengunjungi abang  yang bekerja di samarinda, tapi saya hanya di rumah saja. Abang  sok sibuk kerja ini itu, entah apa, katanya ngurusi kampus, dan saya di rumah sendirian nonton tv.

Oh no… jauh-jauh ke samarinda cuma buat nonton tv!!! Di kos pun bisa, meskipun tv kamar tetangga, hehehe.. katanya saya harus nunggu abang dulu di rumah sampai dia pulang.

‘sabar’

Saya berusaha sekali menjadi sabar, susah ternyata. Saya bukanlah orang yang sabar dan bisa diam menunggu. Saya suka tantangan dan selalu ingin maju duluan, entah grusa-grusu atau ngawur namanya, tapi saya suka yang spontanitas seperti itu. Alhasil, saya malah telepon abang dan marah-marah. Hehehe.. tapi kan intinya saya tetap sabar dan tidak kabur dari rumah…

Jam sudah menunujukkan hampir pukul 18.00 WITA. Tapi matahari masih terik, mungkin kalau di jawa masih seperti  pukul  16.30-an gitu, ternyata matahari tenggelam lebih lambat di Kalimantan. Saya masih marah-marah dan cemberut sama abang. Abang baru pulang dari kantor, padahal dia janji mau mengajak saya jalan-jalan. Kalau sudah malam begini mau jalan-jalan ke mana coba…

Abang menghibur saya dan bilang kalau malam hari banyak pedagang durian di tepian sungai Mahakam. Wah, mendengar kata duren saya langsung semangat lagi, hehehe… ternyata saya gampang dirayu dengan durian

Tepian Mahakam ternyata tidak jauh dari rumah abang, mungkin sekitar 15 menit. Sesampai di pertigaan jalan, saya sudah bisa melihat sungai Mahakam yang besar itu. Kata abang, samarinda itu kecil, jalan ke mana pun pasti berakhir ke tepian Mahakam, makanya samarinda punya gelar ‘kota tepian’. Saya langsung meloncat turun dari motor dan lari ke tepian sungai. Ternyata waktunya pas, pas matahari tenggelam alias sunset.

sungai mahakam yang agung binti cantik :)

Romantis. Tiba-tiba kata itu berterbangan di benak saya.

Mahakam di kala senja sangat romantis sekali.

Kebencian saya terhadap romantis harus diakhiri saat itu juga. Saya menyerah dan mengakui bahwa hidup membutuhkan hal-hal yang romantis seperti ini.

Matahari dari arah barat menuaikan cahaya kuning keemasan yang sangat elegan. Hanya ada sedikit cahaya keemasan diantara awan-awan yang mengumpul di barat langit, dan sisanya adalah langit biru yang mulai menggelap perlahan demi perlahan. Sedikit bias sinar matahari di sebelah barat itu juga memantul pada awan-awan di sekitar sehingga memunculkan sedikit warna keperakan yang cantik. Tampak pula seleret-seleret awan tipis berwarna pink yang menghiasi cakrawala. Sinar matahari juga menyebabkan siluet cantik dari islamic centre samarinda di kejauhan. Islamic centre yang berdiri kokoh dengan gagah itu terlihat seperti istana kerajaan islam di kala senja. Siluet perbukitan, pepohonan dan sedikit lampu kota juga menampakkan diri dengan kalemnya. Beberapa tongkang berlalu lalang mengangkut batu bara, beberapa sisanya bersandar.  Angin bertiup sangat perlahan menciptakan riak-riak kecil di badan sungai Mahakam. Ah, damai rasanya…  padahal di belakang saya adalah jalan raya dengan kendaraan yang berlalu lalang karena jam pulang kerja. 

tongkang-tongkang yang bersandar
serasa jaman raja-raja islam


Sungguh keren! Di tengah ibu kota provinsi yang ramai masih ada pemandangan seperti ini…

Romantis, sebuah kata untuk keindahan

Sebuah kata untuk kasih sayang

Betapa tuhan menyayangi saya dan menakdirkan saya semenjak bersarang di rahim ibu untuk menikmati indahnya tepian Mahakam 21 tahun kemudian.

:) gaya dikit ah (:


Romantis, juga sebuah perjuangan

Abang saya yang  lelah bekerja seharian masih saja berusaha membuat saya yang marah-marah seperti anak kecil agar kembali tersenyum.

Pengemudi tongkang itu menyandarkan kapalnya di tepian Mahakam, sepertinya mereka pulang setelah mengelilingi sungai dan laut yang betapa luasnya itu untuk melepas lelah sembari memeluk anak istri di rumah.

Romantis akan semakin menjadi ketika kita menikmatinya dengan orang yang sangat kita sayangi

Saya menyerah untuk mengakui romantis sejak saat itu.

makin tenggelam mataharinya makin cantik